Cerita Gagal Manis Saat Belajar Machine Learning Sendiri

Cerita Pembuka: Gagal Manis yang Membuka Jalan

Belajar machine learning sendiri itu seperti mempelajari peta kota yang terus berubah: gambarnya terlihat sederhana dari jauh, tapi ketika masuk jalan kecil-kecil, sering tersesat. Saya ingat proyek pertama saya — mencoba memprediksi jarak tempuh sisa (remaining range) pada mobil listrik (EV) dengan dataset telemetri kecil yang saya kumpulkan sendiri. Hasilnya? Model saya tampak jenius pada data latihan, tapi jeblok ketika diuji pada perjalanan nyata. Itu gagal—manis karena memberikan pelajaran tak ternilai: data nyata tidak sesopansampel yang ada di tutorial.

Kesalahan Awal yang Membentuk Pemahaman

Kesalahan klasik yang saya lakukan: menganggap semua fitur independen dan berskala stabil. Saya memasukkan SOC (state of charge), kecepatan rata-rata, suhu udara, dan elevasi tanpa memikirkan korelasi temporal dan pengukuran sensor yang noisy. Hasilnya, model overfit. Dari pengalaman di beberapa proyek selanjutnya, saya belajar bahwa masalah EV menuntut penanganan time-series, feature engineering yang konservatif, dan validasi berbasis perjalanan (trip-wise split), bukan random split. Di pasar EV global—di mana China menyumbang lebih dari setengah penjualan dan Eropa + AS mendorong adopsi—variabilitas kondisi mengemudi jauh lebih besar daripada data kota kecil Anda.

Eksperimen yang Gagal tapi Berharga: Dataset EV dan Prediksi Jarak

Salah satu eksperimen saya adalah memprediksi degradasi baterai menggunakan dataset kurang dari 1.000 siklus pengisian. Saya memulai dengan regresi linear sederhana—hasilnya tak memuaskan. Lalu saya coba Random Forest, XGBoost, dan LSTM. Intinya: ukuran dan kualitas dataset jauh lebih penting daripada kompleksitas model. Dari pengalaman profesional selama bertahun-tahun, saat bekerja pada proyek yang melibatkan fleet EV, saya menemukan bahwa model yang stabil sering membaik dengan menambahkan metadata (tipe baterai, umur kendaraan, pola pengisian), melakukan augmentasi dengan simulasi suhu, dan menerapkan transfer learning dari dataset yang lebih besar. Contoh konkret: ketika kita menambahkan fitur suhu baterai pada interval 1 menit dan memperbaiki sinkronisasi waktu antara sensor, MAPE untuk prediksi jarak turun dari ~18% ke ~7% pada uji lapangan.

Membangun Pipeline ML untuk Aplikasi EV: Dari Data ke Produksi

Belajar ML sendiri harus cepat turun ke praktik produksi jika Anda ingin memberikan nilai pada ekosistem EV. Di proyek nyata, bottleneck terbesar bukanlah arsitektur neural network, melainkan pipeline data. Saya pernah memimpin integrasi model prediksi permintaan pengisian (charging demand) untuk jaringan stasiun pengisian di sebuah kota. Tantangannya: data transaksi stasiun terfragmentasi, missing data tinggi, dan latensi update real-time. Solusi praktis: simple ETL dengan quality checks, model ensembel ringan untuk inference pada edge, dan mekanisme fallback berbasis heuristik ketika data hilang. Teknik ini relevan global—operator di Eropa atau penyedia layanan di Asia juga mengandalkan pipeline yang robust, bukan hanya model canggih.

Refleksi, Opini, dan Saran Praktis untuk Pembelajar Mandiri

Opini dari pengalaman: dalam konteks perkembangan EV global, fokus pada masalah spesifik industri memberikan hasil signifikan. Misalnya, kemampuan memprediksi demand pengisian dalam radius 5 km di jam sibuk lebih bernilai untuk bisnis daripada model prediksi baterai yang butuh data mahal untuk dilatih. Untuk Anda yang belajar sendiri, tips praktis dari saya: mulai dengan dataset kecil tapi realistis—rekam beberapa perjalanan, sinkronkan timestamp dengan benar, dan lakukan validation split berdasarkan trip. Pelajari juga domain EV: bagaimana suhu mempengaruhi performa baterai, perbedaan pengisian cepat (CCS) dan pengisian lambat, serta pola adopsi di pasar seperti China, Eropa, dan AS.

Sumber daya berguna: selain paper dan kursus ML, pantau perkembangan industri di situs-situs yang fokus pada EV untuk memahami tantangan nyata. Sebagai contoh, saya sering merujuk berita dan analisis pasar di halohrev untuk insight tentang infrastruktur pengisian dan kebijakan regional—yang pada akhirnya membantu merancang fitur dan skenario uji yang relevan.

Penutup: kegagalan awal itu wajar—dan bernilai. Gagal manis bukan berarti menyerah; artinya Anda menemukan titik lemah yang kemudian bisa diperbaiki dengan pendekatan pragmatis. Terus eksperimen, ukur dalam kondisi nyata, dan bangun pipeline yang dapat bertahan di dunia EV yang cepat berubah. Kalau Anda butuh checklist praktis untuk proyek ML EV, saya bisa susun langkah demi langkah berdasarkan pengalaman saya di lapangan.